Senin, Juli 18, 2016

Rabu, Mei 11, 2016

Yakinlah...

Yakinlah ada sesuatu
yang menantimu
selepas banyak kesabaran yang kau jalani
yang akan membuatmu terpana
hingga kau lupa pedihnya rasa sakit..

Jumat, April 15, 2016

kesulitan & kesabaran

Bukankah engkau mengetahui
bahwa kesulitan itu
diikuti kemudahan..

Sebagaimana kesabaran
selalu disertai oleh solusi..





Rabu, 22 Juni 2011
13.33

Awal mula..

Untuk menghalangi bulir - bulir kesedihan..
Bercak - bercak kegalauan..
Dan, bayangan - bayangan ketakutan
yang selalu menghantui..

Untuk membatuku mengikis
kawat - kawat keraguan...



Rabu, 22 Juni 2011
13.30 



Kisah Cinta seorang anak..

(ditulis oleh Cristine Wili) 
 
Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
     
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu. tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama…
Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau. “Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…” Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”
Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!” Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”





Kamis, 26 Januari 2012
14.08





Mencintai-Mu...

Perkenankanlah 
Aku mencintai-Mu semampuku..


Tuhan,
Aku masih ingat 
Saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu
Lembar demi lembar kitab kupelajari 
Untai demi untai kata para Ustad ku resapi
Tentang cinta para Nabi
Tentang kasih para Sahabat
Tentang mahabah para Sufi
Tentang kerinduan para Syuhada
Lalu kutanam dijiwa dalam - dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi - mimpi dan
Idealisme yang mengawang di awan

Tapi Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, 
dan kemudian tahun berlalu
Aku berusaha mencintai-Mu dengan 
cinta yang paling utama
Namun,
Aku masih juga tak menemukan 
cinta tertinggi untuk-Mu
Aku makin merasakan gelisahku membadai
Dalam cinta yang mengawang
Sedang kakiku mengambang
Tiada menjejak bumi
Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan..

Wahai Illahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, 
pekan, bulan dan tahun berlalu
Aku mencoba merangkak
Menggapai permukaan bumi
dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan menghiba-Mu..

Allahu Rahim, Illahi Rabbi,
Perkenankanlah
Aku mencintai-mu semampuku..

Allahu Rahim, Illahi Rabbi,
Perkenankanlah
Aku mencintai-Mu sebisaku..

Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu 
dengan kesabaran menanggung derita
umpama Nabi Ayyub, Nabi Musa, 
Nabi Isa hingga Al - Musthafa
Karena itu izinkan aku mencintai-Mu 
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku..

Rabbi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar
Yang menyedekahkan seluruh hartanya
dan hanya meninggalkan diri-Mu & Rasul-Mu
bagi pribadi dan keluarga
Atau layaknya Umar 
Yang menyerahkan separuh harta demi jihad 

Maka perkenankanlah
Aku mencintai-Mu semampuku..
Melalui seratus dua ratus perak 
Yang terulur pada tangan - tangan kecil di perempatan jalan
Pada wanita - wanita tua yang menadahkan tangan 
dipojok - pojok jembatan
Pada makanan - makanan sederhana 
yang terkirim ke handai tolan..

Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan khusyuknya Shalat salah seorang sahabat Rasul-Mu
hingga tak hirau dia pada anak panah musuh 
yang menghujam dikakinya

Karena itu ya Allah,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku
Dalam Shalat yang kucoba dirikan terbata - bata
meski ingatan kadang melayang 
ke berbagai permasalahan dunia..

Rabbi,
Aku tak sanggup beribadah ala para Sufi & Rahib
Yang membaktikan seluruh malamnya 
untuk bercinta dengan-Mu

Maka izinkanlah aku untuk mencintai-Mu
Dalam satu dua rakaat lail ku..
Dalam satu dua sunnah Nafilah-Mu
Dalam desah nafas kepasrahan tidurku

Yaa Maha Rahman,
Aku tak sanggup mencintai-Mu 
Bagai para Al - Hafidz dan Hafidzah
Yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam 

Maka perkenankanlah 
Aku mencintai-Mu semampuku
Melalui selembar dua lembar tilawah harianku 
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku 

Yaa Rahim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu semisal Sumayyah 
Yang mempersembahkan jiwanya demi tegaknya din-Mu..
Seandai para Syuhada 
Yang menjual dirinya dalam jihad bagi-Mu

Maka
Perkenankanlah 
Aku mencintai-Mu semampuku 
Dengan mempersembahkan sedikit bakti 
dan perngorbanan untuk dakwah-Mu

Maka,
Izinkanlah aku mencintai-Mu semampuku
Dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru 


Allahu Rahim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu diatas segalanya
Bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra & Zaujahnya 
dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya 

Maka izinkanlah 
Aku mencintai-Mu di dalam segala

Perkenankanlah aku mencintai-Mu 
Dengan mencintai keluargaku
Dengan mencintai sahabat - sahabatku
Dengan mencintai manusia & alam semesta 

Allahu Rahmaanurrahim, Illahi Rabbi
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku 
Agar cinta itu mengalun dijiwaku 
Agar cinta ini 
Mengalir disepanjang nadiku

Perkenankanlah
Aku mencintai-Mu semampuku..



Tertatih 28 tahun meniti cinta-Mu...
 
 
 
 
 
Sabtu, 02 Juli 2011
10.10

 
 
 
 
 

Apabila..

Sahabat terkasih,
Apabila engkau sedang bergembira
mengacalah dalam - dalam ke lubuk hati..
disana nanti engkau dapati
bahwa
hanya yang membuat derita
berkemampuan
memberimu bahagia..

Apabila engkau berduka cita
mengacalah lagi ke lubuk hati..
disana pula engkau akan menemui
bahwa
sesungguhnyalah
engkau menangisi
sesuatu yang pernah engkau syukuri..




Rabu, 22 Juni 2011
13.49